Jumat, 18 Juni 2010

Eksistensialisme

Mengapa saya ada? Apa tujuan hidup saya? Apa makna kehidupan yang ada pada saya ini? Itulah sejumlah pertanyaan yang berkenaan dengan keberadaan diri. Dalam filsafat, pertanyan tersebut merupakan pertanyaan yang bersifat eksistensialisme.

Smith dan Raeper menyebutkan bahwa filsafat eksistensialisme ini merupakan filsafat para pemberontak. Eksistensialisme dipusatkan pada diri individu dan masalah-masalah eksistensi. Kata-kata kunci yang sering kembali dalam tulisan-tulisan para eksistensialis ialah kebebasan, individualitas, tanggung jawab, dan pilihan. Oleh karena itu, filsafat ini cenderung bersifat subjektif; menyangkut saya dan bagaimana saya hidup.

Ada tiga filsuf eksistensialis yang terbesar, yaitu Soren Kierkegaard (1813 -- 1855), Martin Heidegger (1889 -- 1976), dan Jean Paul Sartre (1905 -- 1980). Dari ketiganya, Kierkegaard dianggap sebagai pelopor filsafat ini, bapak eksistensialisme.

KIERKEGAARD DAN TRAGEDI

Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, dan makanan. Ia menikahi Ane Sorendatter Lund, seorang pembantu yang tidak pernah memperoleh pendidikan; istri pertamanya meninggal dua tahun setelah pernikahan mereka.

Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan H.L. Martensen menjadi gurunya di sana.

Ada banyak tragedi yang di sekitar pria yang juga menguasai bahasa Latin, bahasa Yunani, sejarah, matematika, sains, dan filsafat ini. Tragedi pertama menyangkut ayahnya yang merasa tidak pernah lepas dari dosa mengutuk Tuhan. Hidupnya juga menyimpan skandal dengan pembantu rumah tangganya yang kemudian menjadi istri keduanya. Lalu, saudara-saudara Kierkegaard banyak yang meninggal ketika masih begitu muda. Dua kakaknya, satu lelaki dan satu perempuan, meninggal sebelum ia berusia sembilan tahun. Tiga kakaknya yang lain, dua perempuan dan satu lelaki, meninggal sebelum ia berusia 21 tahun. Kakak tertuanya, Peter, akhirnya memilih hidup sebagai seorang uskup. Kierkegaard sendiri tidak pernah menikah seumur hidupnya. Ia membatalkan pertunangannya dengan Regina Olsen.

Meski demikian, talentanya yang luar biasa sudah muncul ketika menuliskan Journals, salah satu karya terbaiknya yang pernah diterbitkan. Ia mulai menulis karya tersebut ketika berusia dua puluh tahun. Mungkin bakatnya mulai terasah ketika turut mendengarkan diskusi mengenai filsafat Jerman yang sering dilakukan ayahnya di rumah mereka.

KIERKEGAARD DAN KRITIK TERHADAP GEREJA

Salah satu karya Kierkegaard yang tajam dihasilkannya menjelang akhir hayatnya. Peter Vardy, seorang dosen Filsafat Agama di Heythrope College, University of London, menganggap tulisan-tulisan Kierkegaard yang dikumpulkan dalam buku Attack upon Christendom merupakan kecaman paling keras yang pernah ditulis. Setidaknya, sepuluh artikel termuat di dalamnya sebagai kritik terhadap gereja yang dianggap Kierkegaard sudah melenceng dari hakikat gereja yang semestinya.

Kecaman Kierkegaard tersebut dipicu oleh pernyataan Profesor Martensen dalam pemakaman Uskup Mynster yang dinilainya sebagai upaya menarik perhatian masyarakat guna mendapatkan posisi sebagai uskup. Kecamannya ini semula ditujukan bagi Martensen, namun berkembang menjadi kritik terhadap seluruh gereja.

Dalam kecaman tersebut, Kierkegaard menganggap para imam dan gereja tidak lagi mewartakan Injil Kristus, tetapi mewartakan pesan kemapanan dan kegembiraan. Gereja justru memberikan rasa aman, penghargaan, dan kedudukan dalam masyarakat. Ia melihat gereja sudah mempermainkan Allah dengan memberitakan sesuatu yang menyimpang dari kekristenan Perjanjian Baru (PB).

Salah satu artikel yang berjudul "Judge for Yourself" mendorong pembacanya untuk beribadah di gereja dan mempertimbangkan sendiri apakah yang diwartakan sama dengan kekristenan PB yang mencakup keterlibatan sepenuh hati, komitmen, dan dedikasi total.

"Dunia Kristen" bukanlah Gereja Kristus ... dalam pengertian bagaimanapun juga. Tidak, saya katakan bahwa "Dunia Kristen" adalah omong kosong yang melekat pada Kristianitas seperti sarang laba-laba yang melekat di pohon, begitu eratnya sehingga sekarang ingin dianggap sebagai Kristianitas .... Bentuk keberadaan yang telah ditunjukkan oleh jutaan "Dunia Kristen" tidak berhubungan sama sekali dengan Perjanjian Baru." (Attack upon Christendom 192)
Kecaman Kierkegaard yang kian keras menimbulkan reaksi balik dari pihak gereja. Diaken Bloch mengancamnya dengan sanksi gereja. Namun, Kierkegaard menanggapi lewat tulisannya:

"Bila saya tidak mengubah diri, Sang Diaken akan menghukum saya dengan sanksi gereja. Lalu bagaimana? Hukuman itu memang direncanaan dengan kejam; sebegitu kejamnya sehingga saya mengatakan para para wanita untuk menyediakan obat amonia agar mereka tidak pingsan sewaktu mendengarnya. Bila saya tidak mengubah diri, pintu gereja akan tertutup bagi saya. Mengerikan! Jadi, bila saya tidak mengubah diri, saya akan sendirian di luar pintu, dan pada hari Minggu saya tidak dapat lagi mendengarkan kefasihan bicara para saksi kebenaran." (Attack upon Christendom 47)

Bagi Kierkegaard, ibadah yang benar hanya "terletak pada pelaksanaan kehendak Allah" dan gereja tidak mutlak diperlukan untuk itu. Ini tidak berarti bahwa ia mendukung penghapusan gereja Kristus. Ia justru mengemukakan bahaya yang diakibatkan oleh keputusan untuk menetapkan lembaga gereja sebagai pengganti gereja Kristus. Dan ia melihat tugasnya sebagai memperkenalkan kembali kekristenan ke dalam dunia Kristen. Ia sepenuhnya sadar bahwa keselamatan tidak bergantung pada perintah para imam, tetapi pada perintah Allah.
Kierkegaard beranggapan, jauh lebih baik untuk menyerang dan menolak kekristenan daripada turut serta dalam mengejek kekristenan dalam kebobrokan yang ditunjukkan gereja.

KARYA-KARYA KIERKEGAARD LAINNYA

Kierkegaard banyak menghasilkan karya tulis di sepanjang hidupnya. Meskipun pada mulanya berbagai tulisannya tidak terlalu diperhatikan, pada masa-masa berikutnya, karya-karyanya tersebut memengaruhi banyak tokoh lain. Sebut saja Heidegger, Sartre, bahkan para teolog abad dua puluh seperti Karl Barth, Rudolf Bultmann, Paul Tillich, dan Dietriech Bonhoeffer.
Pada dasarnya, karya-karya Kierkegaard dapat dikelompokkan dalam dua periode. Periode pertama ditulis antara 1841 dan 1845. Sebagian besar bernuansa filosofis dan estetis, beberapa ditulis dalam nama samaran, Johannes Climacus. Karya-karya dalam periode ini ialah The Concept of Irony with Constant Reference to Socrates (1841), Either/Or (1843), Fear and Trembling (1842), The Concept of Dread (1844), Stages on Life's Way (1844), Philosophical Fragments(1844), Concluding Unscientific Postscript to the Philosophical Fragments (1846), dan sejumlah Edifying Discourses.

Periode kedua dalam kepenulisannya lebih ditekankan pada kekristenan. Pada masa ini, tulisan-tulisannya banyak ditujukan pada gereja. Karya-karya yang ia hasilkan pada masa ini ialah Works of Love (1847), Christian Discourses (1848), dan Training in Christianity (1850). Sementara itu, Journal terus ia tulis sampai akhir hayatnya.

Berikut ringkasan sejumlah karyanya.
• Either/Or (Enten/Eller) - 1843
Buku ini terdiri dari dua bagian yang mempertentangkan pandangan hidup yang estetis dengan yang etis. Karya yang panjang ini menampilkan catatan-catatan pribadi, esai-esai dan percobaan-percobaan psikologis untuk menggoda ahli estetika serta serangkaian surat yang ditulis seorang hakim kepada ahli estetika yang menyanjung sisi positif pernikahan dan kehidupan etis. Struktur dialektis karya ini tidak memberikan penyelesaian, atau "sintesis" dalam konsep Hegelian, untuk dua pandangan hidup yang bertentangan. Karya ini berfungsi baik sebagai kritik maupun parodi terhadap filsafat Hegelian.

• Fear and Trembling (Frygt og Baeven) - 1844
Mengambil contoh pegorbanan Ishak oleh Abraham untuk menyelidiki penundaan etika teleologi (ajaran atau kepercayaan bahwa segala tindakan disebabkan karena adanya tujuan yang ingin dicapai). Hal ini merupakan kebutuhan akan ketaatan mutlak terhadap perintah Allah meskipun perintah itu tidak masuk akal atau tidak bermoral.

• Philosophical Fragments (Philosophiske Smuler) - 1844
Melalui karya ini, Kierkegaard memerinci elemen subjektif yang diperlukan dalam mendapatkan pengetahuan dengan menelusuri doktrin inkarnasi dan apakah kebahagiaan abadi dapat didasarkan pada peristiwa sejarah.

• Concluding Unscientific Postscript (Afsluttende uvidenskabelig Efterskrift) - 1845
Sambungan Philosophical Fragments yang berpendapat bahwa semua kebenaran harus secara subjektif cocok dan tidak ada jaminan adanya pengetahuan objektif. Kierkegaard mengangkat Kristus, tokoh yang penuh paradoks, yang adalah manusia dan Allah. Ia menekankan bahwa hal ini tidak dapat dipahami secara logis (sebagaimana dalam sintesa Hegel. Seseorang hanya bisa memiliki sebuah komitmen yang subjektif yang sungguh-sungguh terhadap kepercayaan ini atau kepercayaan lain.

• Works Of Love (Kjerlighedens Gjerninger) - 1846
Sebuah esei yang meneliti perintah "Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi dirimu sendiri'. Karya itu menekankan kualitas cinta yang tak terlukiskan, meneliti siapakah 'sesama' dan bagaimana cinta sejati (tidak egois) hanya mungkin didapat jika kita mengenal Tuhan dan menjadi wujud alami iman.

• Practice in Christianity (Indøvelse I Christendom) - 1850
Karya ini merupakan serangan yang murni dilancarkan Kierkegaard, ditujukan kepada gereja mapan yang mencoba meminimalisir serangan dalam rangka melayani dunia. Melalui karya ini, ia hendak memperkenalkan kembali kekristenan PB kepada dunia Kristen.

• The Changelessness of God: A Discourse (Guds Uforanderlighed. En Tale) - 1855
Karya yang didasarkan pada khotbah tentang Yakobus 1:17 ini memuji ketetapan Tuhan dan mendorong pembaca untuk mengikut Dia. Tapi pembaca juga diingatkan untuk berhati-hati dalam bertindak karena mereka akan diadili oleh Tuhan dengan ketetapan tak tergoyahkan yang sama.

AKHIR HAYAT

Meskipun melancarkan kritik yang sangat keras terhadap gereja, ia tetap berkunjung ke gereja. Tidak untuk menghadiri ibadah. Ia hanya duduk di luar gereja dengan tenang pada hari Minggu. Namun, ia tetap memberikan perpuluhan kepada gereja.

Ketika ia hendak pulang ke rumah dengan uang terakhir yang dimilikinya, Kierkegaard terjatuh tak sadarkan diri. Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal lima minggu kemudian. Ia meninggal pada tanggal 11 November 1855. Pemakaman Kierkegaard tidak dihadiri oleh pendeta manapun. Hanya dua orang sepenting Peter, saudara laki-lakinya yang telah menjadi uskup, dan dekan dari sebuah katedral.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar